Madyjewellery.id – Obligasi tidak lagi merupakan diversifikasi yg baik sebab terlalu berkorelasi dengan ekuitas, menjadikan emas serta komoditas lainnya menjadi pilihan yang lebih baik, menurut david dierking, penyunting etf focus pada thestreet.
Dierking mencatat bahwa investor yang terjebak dengan portofolio klasik 60/40 selama beberapa tahun terakhir sudah menderita sebab “hanya portofolio 100/0 yg benar-benar memiliki peluang buat menghasilkan laba positif.” dan meskipun imbal akibat obligasi treasury sebesar 5% kelihatan sangat menarik akhir-akhir ini, obligasi treasury jangka panjang turun 45% dari puncaknya pada tahun 2020.
“sebab the fed telah melaksanakan siklus kenaikan suku kembang paling agresif dalam sejarah, perihal ini meningkatkan volatilitas pasar obligasi ke taraf tertinggi dalam sejarah,” ucapnya.
Dierking membagikan bahwa terakhir kali pasar obligasi bergolak seperti ini artinya waktu krisis keuangan, serta volatilitas ini terus semakin tinggi selama satu setengah tahun. “saya mungkin tidak perlu memberi tahu kamu bahwa saat volatilitas pasar berada di titik tertinggi dalam 15 tahun dan sudah berjalan selama enam kuartal terakhir, umumnya tidak ada akibat yang baik,” ucapnya.
Menggunakan inflasi yg tetap menjadi problem, volatilitas pasar obligasi kemungkinan bakal permanen tinggi seiring dengan imbal hasil, jadi berinvestasi besar -besaran pada treasury serta uang tunai bukanlah langkah terbaik, pungkasnya, dan penanammodal wajib mempertimbangkan buat merotasi sebagian portofolio mereka ke emas serta komoditas lainnya.
“ treasury mempunyai sejarah panjang dalam bertindak menjadi diversifikasi saham (meskipun dalam 2 tahun terakhir),” tulis dierking. “korelasinya yg rendah menggunakan kelas aset berisiko lainnya membantu mengurangi akibat portofolio secara keseluruhan dan meredakan beberapa volatilitas yang terjadi secara rutin di pasar keuangan.”
Tetapi beliau mengatakan emas dan komoditas mempunyai kegunaan yg sama, bahkan mungkin lebih baik. “emas hampir tidak memiliki korelasi sama sekali dengan saham, menjadikannya mungkin menjadi diversifikasi utama,” ucapnya. “komoditas pula memiliki korelasi yang rendah dengan saham, namun pergerakan harganya acapkali kali lebih didasarkan pada posisi kita dalam daur pasar.”
Dierking menunjukkan kemampuan cukup saham, obligasi, emas, dan komoditas selama 15 tahun terakhir.
“pengembalian absolut historis berasal masing-masing kelas aset tidak penting di sini sebab masa depan kemungkinan akbar bakal terlihat sangat tidak sinkron,” katanya. “yang mungil kemungkinannya buat berubah ialah tingkat akibat serta korelasi antar aset. Korelasi ekuitas terhadap obligasi serta emas, secara historis, sangat rendah serta korelasi terhadap komoditas, meskipun lebih tinggi, masih pada taraf pada mana ada manfaat diversifikasi yang signifikan.”
Dierking menulis bahwa masalahnya ialah saham serta obligasi ketika ini jauh lebih berkorelasi dibandingkan di masa lalu, mungkin dengan tinggi 0,80. “ditambah lagi, ketika hubungan yang tinggi dikaitkan dengan risiko penurunan, hal ini menghasilkan keputusan pembangunan portofolio sebagai jauh lebih rumit,” katanya. “meskipun korelasi saham/obligasi kemungkinan besar akan pulang ke homogen-rata jangka panjang di akhirnya, namun solusi jangka pendeknya mungkin artinya mengubah hubungan obligasi yg tinggi ad interim dengan hubungan rendah antara emas dan komoditas.”
Buat mengujinya, dierking membentuk 3 simulasi portofolio: portofolio #1 berisi 100% pasar saham AS, portofolio #2 berisi 80% pasar saham AS serta 20% pasar obligasi AS, serta portofolio #tiga berisi 60% pasar saham AS, 20% AS pasar obligasi, 10% emas, dan 10% komoditas.
“kamu mungkin bertanya kenapa aku merogoh 20% asal saham pada portofolio #3 daripada obligasi,” katanya. “jawabannya merupakan aku konfiden kita bakal segera memasuki ambang di mana aset-aset safe haven mulai berperilaku seperti aset-aset safe haven lagi. Hal ini kemungkinan akbar terjadi seiring dengan timbulnya potensi resesi pada beberapa kuartal mendatang. Jika itu terjadi, potensi imbal hasil yg lebih tinggi bakal terjadi di obligasi, bukan saham.”
Dierking kemudian pulang menguji ketiga portofolio tersebut selama 16 tahun terakhir.
“portofolio seluruh saham menghasilkan imbal akibat yg lebih baik secara pasti dibandingkan portofolio yg lebih terdiversifikasi, namun jua mempunyai akibat yg jauh lebih besar ,” ucapnya. “portofolio 60/20/10/10 tertinggal lebih kurang 2% berasal portofolio 100/0 setiap tahunnya, tetapi volatilitasnya jua lebih rendah sekitar 30%. Penarikan maksimumnya selama periode pengukuran jua hanya kurang lebih dua/3 asal seluruh portofolio saham.”
Dierking mengatakan temuan yang paling menarik ialah komparasi return yg diadaptasi menggunakan risiko. “rasio sharpe serta sortino buat portofolio 100/0 serta 60/20/10/10 nyaris sama, artinya keduanya menyampaikan kuantitas pengembalian yang sama buat setiap unit risiko,” katanya. “portofolio yang lebih terdiversifikasi cuma bakal mengembalikan keadaan lebih kurang 30%.”
Beliau menambahkan bahwa hal ini tetap berlaku ketika imbal akibat tahunan dianalisis. “terdapat pola yang sangat konsisten (dengan hanya beberapa outlier) pada mana keuntungan/kerugian pada portofolio 60/20/10/10 lebih mungil dibandingkan 2 portofolio lainnya,” ucapnya.
Dierking menulis bahwa meskipun investor selalu mencari cara buat memaksimalkan keuntungan, sebagian besar tidak menyadari bahwa mereka bisa menerima keuntungan tadi sambil meminimalkan risiko penurunan. “kerugian lebih sedikit sama berharganya dengan mendapatkan lebih banyak,” katanya. “Bila kita memang sedang menuju ke arah resesi, faktor akibat yg lebih rendah asal portofolio 60/20/10/10 mampu sangat bernilai.”
Sumber : Kitco.com

